Minggu, 03 September 2017

KEBENCIAN PADA HAL REMEH


Setiap orang punya karakter tersendiri. Membuat setiap orang menjadi individu yang berbeda di segala aspek. Baik hal yang disukai atau hal yang dibenci.

Ada yang begitu menyukai makanan pedas, ada yang tidak suka. Ada yang suka pedasnya sedikit saja, dan ada yang suka pedasnya dicampur kecap. Begitu beragam selera manusia.

Tidak menyukai sesuatu hal adalah manusiawi. Kebanyakan adalah hal-hal yang tidak baik. Semua orang tidak suka hal yang tidak baik. Makanan basi, buah busuk, buku kehujanan, rumah bocor, terinjak kotoran, dan sebagainya. 

Tapi ternyata banyak juga orang yang begitu tidak suka hal yang tampak remeh temeh. Bahkan tahap tidak sukanya sudah meningkat menjadi benci.

Seorang teman berkata bahwa ia begitu benci jika rambutnya kusut. Karena jika rambutnya kusut, ia akan kesakitan ketika bersisir. Bersisir jadi begitu sakit, bahkan sakitnya sampai ke hati, katanya. Mungkin bagi orang lain, pengalaman bersisir hanyalah hal yang biasa saja. Tapi ternyata bagi teman saya, rambut kusut ini adalah suatu hal yang begitu meresahkannya.

Tidak suka nyamuk. Semua manusia tidak suka nyamuk. Tapi reaksi masing-masing orang berbeda. Ada yang menghalau nyamuk sekedarnya saja, ada juga yang mempersiapkan diri dengan seperangkat alat pembasmi nyamuk.

Ibu saya begitu membenci nyamuk. Beliau tidak bisa tidur jika di kamarnya ada nyamuk. Tak bisa tidur karena suara nyamuk berdenging mengganggunya. Dan sepanjang hari berikutnya, beliau akan terus bercerita bahwa nyamuk yang beliau benci itu telah menggangu tidurnya. Beliau akan memburu nyamuk  sampai dapat, dan memencetnya sampai musnah wujudnya.

Bapak mertua saya tak suka debu. Beliau akan meluangkan waktu untuk menyapu rumah. Bahkan setiap debu yang menempel akan di lap. Lap meja, kursi, lemari, pintu rumah, pagar, dinding. Semua di lap. Kalau ada acara arisan atau kumpul di rumah, sehari sebelumnya beliau akan mencat ulang dinding rumah.

Saya sendiri membenci keringat. Dan itu membuat saya sering mandi. Jika tak berkeringat, saya jadi jarang mandi. Begitu sih teorinya, hehe.

Seperti saat beberapa kali saya menginap di rumah kakak saya di bekasi. Udara yang panas membuat saya harus berulang kali mandi. Bahkan sesaat setelah mandi, langsung beekeringat lagi. Pernah saya mandi delapan kali sehari di sana, bahkan pernah terbangun jam setengah dua pagi karena berkeringat dan langsung pergi mandi saat itu juga. Saya begitu membenci keringat.

Yah begitulah, kadang manusia suka untuk mempersulit diri sendiri, demi kebahagiaan yang mungkin hanya dimengerti olehnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^