Sabtu, 22 Oktober 2016

Introvert

Aku merasakan hangat di bagian perutku. Ah apa ini?. Kucoba membuka mata, melihat apa yang terjadi. Kubuka mata perlahan, tertahan kantuk yang sangat. Oh ya, aku di kamarku. Dan kulihat perutku yang hangat dan terasa berat karena ada Pinky yang seenaknya menganggap perutku kasur empuknya.

 

Kupejamkan mataku sesaat, berusaha mengabaikan mentari yang menerawang melalui kain jendelaku. Ah, aku masih mengantuk.

 

Demi pekerjaan yang menunggu di kantor, aku mencoba perlahan bangun dan memindahkan Pinky dari perutku. Dan dia tetap tertidur. Dasar kucing tukang tidur!. Aku berjalan menuju kamar mandi satu-satunya di rumah kontrakan mungilku ini.

Jam 6 pagi. Aku telah siap mandi dan berpakaian. Masih satu jam lagi waktuku untuk berangkat ke kantor. Kuperiksa nasi yang telah ku masak semalam, hanya sedikit saja, maklum yang makan di sini hanya aku dan Pinky. Aku pun mulai memasak telur mata sapi yang tak akan pernah membuatku bosan. Dan memasak separo ikan untuk makan si Pinky. Pinky mendatangi dapur karena mendengarku mengutak atik dapur, ia mulai sok manja menggeliat di kakiku.

Selesai sarapan. Yang kurasa begitu cepat, karena masih ada waktu tersisa sebelum berangkat kerja. kuputuskan untuk mencuci piring. Piring bekas semalam ternyata tidak kucuci. Tak banyak. Hanya satu piring. Piringku bekas makan malam. Selesai cuci piring, kusapu rumah. tak lama. Rumah kontrakanku kecil. Tak sampai 5 menit menyapu seluruh bagian rumah. rumah 4 petak segi empat. Satu petak runag tamu, satu petak kamar tidur, satu petak dapur, dan satu petak kamar mandi. Dan sedikit halaman belakang tertutup untuk menjemur pakaian. Rumah simple untuk orang simple sepertiku.

Setelah mengunci pintu dan membuka jendela khusus Pinky (agar dia bisa leluasa keluar masuk), aku pun berangkat kerja. sesekali menyapa tetangga yang terlihat sedang menyapu teras mereka.

Sekali naik bis. 20 menit. Aku sampai di kantor. Tepat sebelum jam setengah delapan. Kubuka laptopku dan memulai pekerjaan seperti biasa. Menyapa teman sekantor. Berbasa basi dan sesekali tertawa karena lawakan mereka.

Jam 4 sore. Aku kembali menaiki bis. Pulang ke rumah. 

Turun dari bis, aku singgah di mini market. Ingin membeli sesuatu. Hmm.. spaghetti mungkin?? Boleh juga. spaghetti instan tentunya. Aku suka beli sesuatu yang instan. Mie instan, sambal instan, sarden, kornet, sosis. Menurutku rasanya enak. Enak dan simple.
 
Aku hanya membeli spaghetti (dan sausnya yang juga instan). Tak ingin membeli macam-macam, mengingat persiapan makanan di kulkasku masih banyak.

Sampai di rumah, Pinky menyambutku. Aku ke dapur dan bersiap membuat spaghetti. Sambil mulai merebus spaghetti, aku melihat isi kulkas, apakah ada yang bisa kutambahkan untuk membuat spaghetti. Dan seperti biasa aku mengambil bahan tambahan kesukaannku : beberapa bawang putih dan seledri. Aku suka bawang putih. Menurutku bawang putih membuat makanan lebih mempunyai rasa. Rasa bawang putih, haha. Dan seledri juga membuat rasa makanan jadi terasa unik dan berbau harum.

Begitu spaghetti matang, aku menaruhnya di mangkok. Sangat banyak untuk aku yang hanya seorang diri. Aku sengaja memasak banyak, untuk kuberi pada dua tetangga sebelah rumah. sambil menyiapkan spaghetti untuk mereka, Pinky mengeong minta makan. kumasak ikan untuk Pinky.

Tetanggaku tersenyum sumringah ketika kuberi spaghetti. Aku pun senang melihat orang senang. Aku kembali ke rumah dan memakan spaghettiku sambil menonton tivi. Menonton berita dan kartun. Menurutku hanya dua acara itu yang masih layak untuk ku tonton. Berita untuk menambah pengetahuan, dan kartun untuk merefresh otak. Dibanding menonton gossip dan sinetron yang kadang membuat jengkel sendiri.

Spaghettiku habis. Aku beranjak untuk mandi sore. Dan hari mulai menjelang malam.

Aku menulisi buku harianku seperti biasa sambil sesekali Pinky mengganggu dengan menangkap pulpenku yang bergerak-gerak ketika kupakai menulis. Selesai menulis, aku melirik tumpukan buku di samping tempat tidurku. Tumpukan buku yang terdiri dari buku-buku baru yang kubeli minggu kemarin. Kuambil buku teratas dan mulai membaca sambil berbaring di tempat tidur.

Sesekali tergelak karena membaca barisan paragraph yang lucu. Aku membaca buku humor. Sejenak terpikir untuk membuat pudding besok sore. Atau mungkin membuat sesuatu yang lebih berat? Seperti sayur asam misalnya? Atau sayur kangkung saja? Hmm boleh juga.

Tak terasa waktu mulai larut malam dan lembaran buku yang kubaca semakin banyak. Tanpa sadar aku terlelap dengan buku di sampingku, dan Pinky di perutku.

 
-END-  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^