Minggu, 20 Desember 2015

Tentang aurat

Akhirnya hari ini saya mengalami kekecewaan. Seorang yang saya kagumi memutuskan untuk membuka hijabnya. Seorang penulis yang pernah saya tuliskan di blog ini. Hijaber penulis yang bukunya menginspirasi saya untuk rajin menulis.

Entah kenapa rasanya sedih. Padahal dia gak kenal saya dan kita gak pernah bertemu.

Kenapa? Kenapa harus hijab yang dilepas?

Latar belakang orang yg melepas hijab banyak terjadi karena rasa sedih yang mendalam. Entahlah, itu hanya teori saya.

Beberapa waktu yang lalu juga pernah kan ada berita di televisi, tentang tya subiakto, mba ii, marshanda melepas hijab. Semua di latar belakangi oleh perceraian. Padahal semua adalah hijaber betulan dan bukan hijabers yg suka pasang-copot hijab. Begitu juga dengan penulis yg saya ceritakan juga adalah seorang janda. Bagaimana sakitnya perceraian saya tidak tahu, mungkin begitu menyakitkannya hingga mengganggu hubungan hati dengan Allah.
Kesedihan dan kegalauan bisa membuat syaithan leluasa menguasai hati. Ketika akhirnya memutuskan untuk melepas jilbab, tahukah, bahwa rombongan syaithan bertepuk tangan bersorak gembira. Mereka telah berhasil memperdaya seorang manusia untuk menambah dosanya.

"Ini diriku apa adanya, diriku yang sebenarnya !"

Haruskah kata-kata itu yang terlihat cocok ketika membuka hijab?

Mungkin kata-kata itu lebih cocok lagi jika dikatakan dengan tanpa mengenakan busana secuil pun, "Ini aku apa adanya! Tanpa menutupi apa-apa!"

Mengapa hanya hijab yang dibuka? Apakah begitu menganggu jika rambut tertutupi? Membuka hijab bukanlah perihal menutup atau menunjukkan rambut. Ini semacam peralihan image diri. Dari orang eksklusif menjadi orang biasa.

Muslimah itu eksklusif. Entah apa artinya eksklusif, menurut saya, wanita berhijab itu lebih istimewa.

Kenapa bosan menjadi istimewa dan ingin menjadi biasa? Mungkin kembali ke perihal perceraian tadi. Ingin mengubah suasana dan ingin melupakan masa lalu.

Saya sering sekali bermimpi melepas jilbab. Mimpi yang menakutkan dan membuat saya istigfar ketika bangun. Saya bertanya-tanya apakah saya suatu hari akan termakan rayuan syaithan untuk membuka jilbab? Saya selalu berdoa agar Allah menjaga hidayah ini sampai akhir hayat nanti. Apapun masalah, ingin saya gantungkan hanya kepada Allah, bukan jilbab yang akhirnya malah digantung.

Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak keturunanku orang yang menegakkan shalat. Wahai Rabb kami, terimalah doa kami!” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^