Rabu, 10 Juni 2015

Ibuku Ibu pekerja

Masih banyak hari gini yang mempermasalahkan tentang ibu rumah tangga vs ibu bekerja.

Mama saya bekerja sebagai perawat, bahkan sampai sekarang sudah masuk umur 50 tahun. Yang saya rasakan sewaktu kecil, yahh biasa saja. Kalau gak ada Mama ya main sama kakak saya atau anak-anak tetangga.

Ibu pekerja identik dengan ibu yang tidak mengurusi rumah. Alhamdulillah saya diberi Mama yang sangat rajin sedunia. Sebelum pergi bekerja, beliau selalu memasak banyak untuk stok sampai sore ia pulang. Urusan rumah pun tidak perlu ditanya lagi. Mama saya adalah manusia anti debu. Dikit-dikit nyapu, dikit-dikit ngepel (sayangnya gen ini kok gak menurun ya? Haha). Bahkan Mama masih sering diam-diam membersihkan rumah saya saat saya pergi.

Makanya ketika di medsos ribut soal ibu bekerja yang kesannya gak ngurusjn rumah, saya berpendapat itu tergantung masing-masing individu. Mama saya ibu bekerja namun makanan dan rumah selalu beres. Sementara saya, ibu rumah tangga, tapi rumah berantakan mulu tuhhhh wkwkwkw. Gak ada jaminan bahwa ibu bekerja itu selalu salah atau ibu rumah tangga itu selalu kece (klo saya pastinya kece lah :v).

Dan sekali lagi, masing-masing rumah tangga itu berbeda-beda. Masing-masing kita pasti menilai bahwa keluarga kita adalah yang terbaik di dunia, suami kita terkece sejagat, dan kita adalah ibu tercihuy sampai kemana-mana deh.

Maka, jika saya melihat masih ada yang menyatakan pendapat pribadi bahwa ibu bekerjalah yang benar atau ibu rumah tanggalah yang benar, itu semata-mata hanya kesombongan pribadi orang yg menyatakan pendapat tersebut. Merasa menjadi org paling hebat dengan apa yg dipilihnya.

Saran saya, gak usah mempermasalahkan pilihan orang lain kecuali memang dimintai pendapatnya. Biarkan saja ada tetangga jadi ibu pekerja atau jadi ibu rumah tangga, gak usah saling merendahkan. Toh di mata Allah kita pun bukan dilihat dari hal-hal seperti itu.

Sekian.

1 komentar:

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^