Kamis, 02 April 2015

Penulis itu orang sabar #1day1post

Menulis sebuah novel perlu usaha yang tidak mudah. Kalau ada yang bilang menulis novel itu gampang, pasti dia bukan penulis, melainkan hanya orang yang senang membaca novel lalu beranggapan 'ah, bikin cerita begini doang gue juga bisa!'

Itu pernah saya rasakan sewaktu dulu, sewaktu masih belum pernah membuat novel. Saya begitu banyak mengungkapkan kritik pada novel-novel yang saya anggap terlalu datar, gak menarik, klise dan sebagainya. Beruntung saya nggak pernah menyampaikan hal itu secara langsung pada penulisnya, walau saya tau account twitter mereka. Karena saya tau, kritikan pedas hanya akan merontokkan semangat mereka untuk menulis. Dan itu terlalu kejam.

Saya mulai mencoba menulis novel, setelah sebelumnya berkutat dengan cerpen-cerpen. Saya tak pernah mengirimnya ke media, hanya diposting di blog, dan hanya teman-teman saya yang membacanya. Begitu mulai membuat novel, saya dihadapkan pada berbagai macam tantangan. Menulis novel begitu membosankan! Menulis cerpen hanya butuh beberapa jam, namun menulis novel bisa berbulan-bulan lamanya. Menulis karakter yang itu-itu saja dalam beberapa bulan membuat saya linglung. Bingung karena ceritanya yang harus saya panjang-panjangkan, bingung karena begitu banyak yang harus saya ceritakan tentang satu karakter itu.

Begitu bosannya. Saya lalu mencari penulis-penulis novel terkenal untuk belajar darinya. Saya lalu mendapatkan  kisah-kisah bagaimana Edi AH. Iyubenu begitu gigih dalan mewujudkan impiannya untuk menjadi penulis. Ia terus menulis walau terus menerus ditolak media. Bagaimana Triani Retno yang naskahnya baru diterima bertahun-tahun kemudian oleh media.

Cerita-cerita hebat seperti itu yang saya tanamkan dalam kepala. Menulis bukan hal yang mudah, hanya yang sabar dan gigih yang bisa mewujudkannya.

Bagaimana novel Bidan Galau saya yang telah ditolak tiga penerbit mayor, membuat saya lemas tak bersemangat. Novel kedua pun kini belum ada kabar dan sedang dalam daftar tunggu. Saya begitu pesimis. Namun entah kenapa saya begitu penasaran.

Sambil menunggu, saya kini sedang menulis novel ketiga. Menulisnya di setiap malam ketika keluarga kecil saya sudah terlelap. Sempat terpikir untuk apa saya begadang begini, sementara esok harus berkutat dengan pekerjaan rumah yang tak habis-habis. Apa saya nggak lelah? Mungkin jawabannya, itu semua saya lakukan demi sebuah mimpi. Mimpi menjadi penulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^