Senin, 20 April 2015

Don't judge a book by its cover #1day1post

Ungkapan itu palsu. Hanya sebuah pengingat saja, sejatinya tak ada yang begitu. Semua manusia menilai sesuatu tentu dahulu melihat luarnya. Menebak-nebak dan bersikap seolah tebakan itu benar.

Bagaimana seorang yang berjengot dan berambut gondrong serabutan bisa membuat kita mendekapkan dompet karena takut kemalingan. Dan bagaimana kita begitu nyaman di dekat orang-orang dengan kemeja rapi dan wangi. Padahal sejatinya bisa saja orang berkemeja itu adalah maling yang menyamar. Dan orang berjengot dan berambut gondrong itu adalah polisi intel yang menyamar. Tak bisa dipungkiri kita tak bisa menebak itu karena memang mata kita yang mempermainkan. Memang itu tujuan orang menyamar, karena memang mereka tahu manusia mudah dibodohi dengan apa yang terlihat mata.

Dan lalu ibu sosialita begitu sibuk-sibuk membeli perhiasan dan tas mahal untuk memperlihatkan status sosial mereka. Dan bagaimana para pengemis sibuk merobeki baju untuk merendahkan derajat mereka. Semua itu hanya permainan visual saja. Yes, you judge a book by its cover. Bahkan dalam artian sebenarnya pun orang akan membeli buku yang covernya terlihat unyu. Walau kemudian jika isinya ternyata tak seru, barulah mereka sadar dan mengatakan, don't judge a book by its cover! Dan lalu kemudian membeli lagi buku yang covernya unyu. Manusia memang sudah alamiahnya begitu, menilai sesuatu dari luarnya dulu.

Pernah beberapa waktu lalu saya menonton acara televisi tentang peelombaan memasak. Betapa yang menang adalah makanan yang rupanya jelek tetapi juri menilainya sangat enak. Dan nilai terendah adalah makanan yang amat cantik tetapi kurang enak. Padahal saya sudah begitu kagum dengan makanan cantik itu. Yes, i judge a book by its cover!

Ketika saya berseliweran di kampus dengan jilbab yang lebih panjang dari mahasiswi lain, mereka mengira saya ini hebat dalam hal agama. Nyatanya saya biasa saja, mereka kecewa mendapati sifat saya yang agak sengklek. Don't judge a book by its cover, don't judge a muslimah by its hijab (kaga tau ini bener ape enggak ye). Sering kali panjangnya jilbab menjadi tolok ukur siapa yang lebih alim. Apalagi yang memakai cadar.

Kemarin saya juga begitu. Kecewa mendapati apa yang saya kira-kira tapi ternyata salah. Saya mengikuti les tahsin untuk memperlancar bacaan yang masih bala bele. Lalu di sana saya bertemu dengan seorang yang sedikit mulai saya kagumi, jilbabnya panjang, bacaannya paling bagus diantara peserta.

Waktu pulang, saya bertemu dengannya di sebuah warung. Dia sudah duluan pulang daripada saya, sehingga dia sudah ganti baju dulu sepertinya di rumah, lalu pergi ke warung. Di warung itu saya dapati penampilannya yang agak lain. Ia memakai jilbab tetapi lengan bajunya pendek di atas siku. Saya agak bengong. Kok beda dengan yang tadi?? Ah sudahlah. Don't judge a book by its cover!

Sekarang banyak gamis yang dijual di pasaran. Biasanya berbahan jersey dan sepaket dengan sebuah jilbab panjang. Banyak juga wanita yang mendadak jilbab karena tren gamis ini. Its okay. Bagus. 

1 komentar:

  1. I don't judge a book by its cover, but i do judge a book by its price. :v :v

    BalasHapus

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^