Selasa, 03 Maret 2015

Jangan banyak melamun

Beberapa waktu lalu sempat baca status seseorang di fb. Agak sedih bacanya. Isinya tentang dia yang memutuskan untuk masuk kerja lebih cepat setelah melahirkan. Seperti umumnya, kantor memberi cuti 3 bulan untuk karyawan yang melahirkan. Namun dia memutuskan untuk masuk kantor sebelum 3bulan cutinya habis. Alasannya? Bosan di rumah. Bahkan rumah membuatnya stress seperti tak bisa ke mana-mana karena ada bayi yang selalu bergantung padanya. Karena ketika single dia suka jalan-jalan ke sana kemari. Bahkan kini, melihat bayinya sendiri pun katanya malah jadi tidak menyenangkan dan merasa terbebani.

Bagaimana menyikapi hal ini?

Bagi ibu yg tidak mengalami hal tersebut pasti akan menganggap hal ini sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa seorang ibu menganggap anak bayinya menjadi beban? Lain lagi dengan ibu-ibu yang pernah mengalami hal yang sama, pasti memaklumi ketika membaca status tersebut.

Apakah saya mengalami hal seperti itu?

Saya ingat 17 bulan lalu ketika saya melahirkan, yang saya rasakan saat itu adalah bahagia dan lega akhirnya anak saya lahir juga. Karena waktu itu lahirnya lebih 5 hari dari tgl perkiraan. Ketika pulang ke rumah dan mengurus bayi, saya pun merasa hidup saya mulai berubah. Waktu seakan cepat berjalan. Hari saya dipenuhi oleh menyusui, mengganti popok, mencuci popok, baju celana, bahkan dua minggu pertama anak saya blm saya pakaikan pampers. Jadi memang kegiatan saya pasti mencuci setiap hari. Mencuri-curi waktu untuk mencuci di saat anak terlelap. Bukan hanya mencuci baju anak, saya juga mencuci baju saya dan suami. Memang sih pakai mesin cuci, tapi kegiatan mencuci, mengeringkan dan menjemur juga membutuhkan waktu. Jadi setiap hari waktu saya terasa begitu sempit, belum lagi waktu tidur malam saya yang berkurang karena Sekarang ada bayi mungil yang bangun minta mimi hampir setiap jam. Boro-boro buka facebook, mau BAB saja susah, wkwk.

Mengenai Baby blues syndrome memang sudah saya ketahui dari lama, dulu sempat dipelajari di kampus. Jadi saya lumayan tahu bagaimana gejalanya. Alhamdulillah, saya sama sekali tak mengalami stress pasca melahirkan seperti itu.

kenapa saya tidak mengalami stress??

Heloooohh gak baca tadi yang saya tulis? Waktu saya begitu sempit, mau BAB aja susah, mana ada waktu saya untuk stress atau termenung memikirkan hal-hal yang tidak penting?? Bener deh, menyibukkan diri itu adalah solusi paling top untuk mengusir galau. Mungkin ibu-ibu yang galau baby blues itu masih punya waktu untuk melamun. Melamun=galau. Makanya banyak pengangguran bunuh diri.

Jadi, cobalah untuk mengurus anak tanpa pembantu, tanpa dibantu orang tua. Cobalah kerjakan semuanya sendiri sampai anda begitu sibuk sampai tak sempat untuk melamun lagi. Masa' gak mau ngurus anak cuma gara-gara bosan di rumah? Bawalah anak jalan-jalan kemana kek biar gak bosan. Melihat anak sebagai beban? Astaghfirullah, segeralah ambil wudhu, banyak setan di kepala anda. Hati-hati dalam bersikap kepada anak. Ingat, sewaktu tua nanti, anaklah yang akan mengurus anda. Bagaimana rasanya ketika anda tua nanti anak anda tidak mau mengurus anda dan menganggap anda hanya sebagai beban? Bagaimana perasaan anda?

Perlakukan anak sebagaimana anda ingin diperlakukan. Jagalah perasaannya walau ia memang masih bayi. Menjadi ibu itu bukan cuma status, tapi pekerjaan seumur hidup dan harus dikerjakan sepanjang waktu, tak ada cuti.

Merasa terkurung dan tak sebebas ketika masih single?? Anda harus kreatif, mengurus anak bukan hanya bisa di rumah. Jalan-jalan ke mall, toko buku, makan di restoran, semuanya bisa sambil bawa anak. Kecuali jika anda merasa 'malu' untuk membawa anak ke sana kemari karena tak ingin orang tahu bahwa anda sudah ibu-ibu. Helooo silahkan berkaca, anda sudah dewasa! Sudah ibu-ibu! Akui itu!

Berhentilah kekanak-kanakan, mom!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^