Senin, 17 Maret 2014

Review buku DEAR FARIS



Buku ini saya dapat beberapa waktu yang lalu hasil dari kuis di blognya Arian Sahidi . Sempat mengantri untuk dibaca diantara bberapa buku gratisan saya yang lainnya ,hehe :P

Awal menerima buku ini, saya cuma lihat-lihat cover depannya. Saya tidak membaca blurb di cover belakang karena tidak ingin mendapat kebocoran cerita. Sekilas melihat cover depannya, saya menebak-nebak, pasti ini ceritanya sedih ya? sempat menghela napas sebelum membaca buku ini, soalnya saya agak sedikit takut baca cerita sedih. Suka tapi takut nangis, gitu deh,hehe.

Oke, kita lanjut ke isi bukunya ya. Cerita diawali oleh kisah seorang anak bernama Faris, yang merupakan murid dari si penulis (Arian Sahidi). Faris mengalami kecelakaan bersama Ayahnya. Sayangnya, Ayahnya meninggal dan Faris harus menjalani operasi pada kakinya akibat kecelakaan itu.

Buku ini dibuat dengan bentuk cacatan harian. Di sini sang penulis berbagi cerita mengenai perkembangan Faris. Bagaimana kesedihan dan sekaligus ketabahan Faris dalam menghadapi kejadian tersebut. Disamping itu, digambarkan pula bagaimana perasaan Arian melihat perjuangan Faris. Arian yang begitu mengkhawatirkan Faris dan selalu berusaha menyemangati Faris dengan berbagai cara. Diantaranya dengan mendatangkan teman-teman sekolah ke rumah Faris dan membawakan buku-buku bacaan.

Tangis dan kesakitan yang mengiringi pemulihan Faris serta rasa rindu pada Ayahnya, sedikit banyak membuat semangat Faris kadang melesu. Diikuti oleh kecelakaan kecil di rumah yang membuatnya harus merasakan sakit untuk kedua kalinya. Semangat Faris sempat turun dan danau hangat tak henti tumpah dari matanya karena menahan sakit. Keluarga, teman dan Arian terus berusaha menguatkannya. Semua ingin ia selalu ceria dan berjuang untuk kesembuhannya.

Buku yang cukup sedih bagi saya yang cengeng ini. Sempat berkaca-kaca membaca beberapa bagian, namun saya berusaha meyakinkan diri dan berkedip-kedip cepat agar tak sampai meneteskan air mata. Sungguh bukan perjuangan yang mudah bagi anak sekecil itu. Saya tidak terbayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang yang terkasih. Terus terang, saya belum pernah kehilangan orang terdekat (keluarga inti). Tapi saya memang sering membayangkan bagaimana jika itu terjadi, apakah mereka yang pergi atau justru saya yang pergi, saya membayangkan apa yang terjadi pada kehidupan selanjutnya? membayangkannya saja saya sering menagis sendiri. Belum lagi jika teringat saya sekarang sudah punya anak. Bagaimana jika saya meninggalkannya duluan? apakah ia sudah siap seperti Faris? huhu, sedih. Bagaimanapun, memang ketika kehidupan dimulai, saat itu juga dipastikan suatu saat kehidupan itu akan berakhir. Cepat atau lambat, kita atau keluarga kita akan meninggalkan dunia. Bagi yang ditinggalkan, hanya menyisakan kesedihan yang perlahan akan hilang. Bagi yang meninggalkan dunia, tak ada yang bisa menyertainya selain amal perbuatannya. Kita sendiri saat lahir dan sendiri pula ketika pulang padaNya :(

Keseluruhan isi sangat bagus, karena berdasarkan kisah nyata. Tak ada yang perlu dikurang-kurang atau ditambah-tambahkan. Penyampaian dan pemilihan kata pun bagus :) Di akhir setiap bab dihiasi dengan puisi-pusi indah, menggambarkan sisi penulis yang romantis (promosi colongan :p). Kekurangan mungkin pada layout kertas, entah kenapa rasanya kurang nyaman mata ini membaca dibatasi oleh frame bermotif di bagian margin. Selain itu, desain cover yang menurut saya terlalu bernuansa duka (hitam), padahal di dalamnya penuh dengan semangat perjuangan.

Penilaian saya adalah 8 bintang dari 10 bintang. Saya menyukai kisah nyata yang penuh makna dan inspirasi

Judul : DEAR FARIS
Penulis : Arian Sahidi ( )
Penerbit : LeutikaPrio ( @Leutikaprio )
Tahun terbit : 2014
Tebal buku : 152 halaman
ISBN : 978-602-225-801-8

Kamis, 13 Maret 2014

Potret Rasa

 
kisah tentang gambar tak jelas dan tampak tak bermakna
tapi bagiku, ia memiliki nyawa
ia memang bernyawa walau belum bernapas dengan udara
ia hadir begitu nyata walau hanya berupa rasa
sebuah keajaiban dari Yang Maha Kuasa

hari demi hari kulalui bersamanya
sedih senangku ia rasakan juga
lapar kenyangku terpengaruh olehnya
gerakan-gerakannya selalu buatku bahagia

begitu tak sabar aku menunggunya
hadir di dunia, tersenyum dan tertawa
kuyakinkan diri untuk jadi seorang ibunda
siang malam merawatnya walau lelah mendera
 ingin mendidiknya menjadi seorang yang berguna

***

- sebuah catatan tentang  setahun yang lalu menunggu anak pertama lahir, sebuah pengalaman berharga bagi seorang wanita :) -


http://haqizoufadillah.wordpress.com/2014/03/04/giveaway-potret-rasa-karya-genkbooks/

diikutsertakan dalam give away potres rasa 
silahkan klik gambar di atas untuk turut berpartisipasi :))

Senin, 10 Maret 2014

Takdir



Kugenggam erat ponselku dengan jemari yang mulai berkeringat. Waktu rasanya lama sekali. Aku menunggu detik-detik dia menjawab apa yang baru saja aku katakan. Entahlah, menjawab atau hanya menanggapi saja juga tak apa, asalkan tak terus hening seperti ini. Aku tahu Radit masih di sana, masih memegang ponselnya juga sepertiku. Mungkin ia sedang memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan kepadaku. Aku tahu ini gila. Radit adalah sahabatku selama setahun ini. Dan baru saja aku malah mengatakan perasaanku yang sesungguhnya. Perasaan bahwa aku jatuh cinta padanya dari awal kami bersahabat. Aku tahu ia sudah punya Lina. Seseorang yang cantik dan sempurna untuk mendampingi Radit yang berwajah tampan dan sangat menarik. Aku tahu ini gila. Membuka kenyataan yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat dan lalu aku bongkar begitu saja. Bukan apa-apa, Perpisahan SMA sudah digelar kemarin, Radit dan aku akan kuliah di tempat berbeda. Kami tak akan berjumpa lagi. Kuharap pernyataan cintaku ini akan menjadi dialog terakhir diantara kami.
Aku tak berharap Radit menjawab macam-macam, aku hanya ingin dia menanggapi saja, karena aku pun sudah tahu apa jawabannya. Aku dan Radit memang berbeda. Aku pendiam dan Radit periang. Aku miskin dan Radit anak orang kaya. Memanglah pantas Lina yang jelita dan juga kaya menjadi kekasihnya. Aku hanya pantas sendirian. Menangisi takdir yang tak berpihak padaku.
“Dit, kenapa diam?” aku memecah keheningan.
“Kamu gila! Kita ini sama-sama lelaki!” katanya singkat yang diiringi dengan nada telpon dimatikan. Aku hanya terdiam dan merenung dengan ponsel masih menempel di telingaku.

***

tulisan ini diikutkan dalam lombanya @LiaaNuridaa #GoldenMoment :))