Jumat, 21 Februari 2014

Bohong

Malam ini aku sedang tidak tidur di kasurku yang empuk. Temanku terus memegangi tanganku yang dingin. Kaki kami melangkah senada menapaki tangga-tangga batu yang terasa tak habis-habis. Hanya terdengar suara langkah-langkah kaki dan carrier yang saling beradu serta deru napas yang menggambarkan kelelahan kami.

"Istirahat! istirahat!"

Kami duduk di tangga batu itu. ternyata ketua rombongan pun merasa kelelahan dan menyuruh kami untuk istirahat sejenak. Napasku naik turun, kucoba meminum air yang kubawa, secukupnya saja, khawatir akan cepat habis.

Tetes air jatuh dari langit. gerimis. ketua rombongan mengingatkan untuk segera memakai ponco masing-masing. Sebelum perjalanan dimulai lagi, kulihat langit hitam yang mendung dan misterius di atas sana. Baru kali ini aku merasakan ketakutan pada alam.

Sinar-sinar lampu senter yang temaram berusaha menunjukkan jalan. sianar yang berayun-ayun mengikuti gerakkan tangan, mau tak mau membuat kami sering tersandung karena tak jelas melihat jalan.

"Malam ini kita tidur di sini!"

Lagi-lagi komando itu kami terima tiba-tiba. Ketua rombongan sudah memutuskan untuk beristirahat di sini. Kami pun menurunkan barang bawaan. Aku melihat sekeliling, sepertinya ini bukan tempat yang baik untuk berkemah. Beberapa jam lagi matahari terbit, tak perlu rasanya aku terlalu banyak protes. Tidur sajalah! dan aku pun tidur berbantalkan carrier.

Tidurku tak tenang. sebentar-sebentar aku terbangun. melihat kanan-kiri. Entah apa yang aku takutkan. Aku hanya khawatir marabahaya mengintaiku. Ini baru kali pertama aku mendaki gunung, aku ingin pulang dengan selamat! Teringat kata-kata terakhirku pada Ibu, kata-kata yang sejatinya bohong belaka.

"Bu, aku mau jalan-jalan dan menginap di vila milik teman"

Merinding aku mengingatnya. Vila macam apa yang isinya hutan begini. Tak terbayangkan jika kalimat bohong itu, menjadi pembicaraan terakhirku dengan Ibu.

"100 meter lagi puncak!" teriak ketua rombongan.

Ia sudah duluan di depan. Tepatnya di atas kami, karena jalan sangat menanjak. Siang panas begini, bau belerang mulai terasa menyesaki hidung. 100 meter terasa amat berat, kaki pun dipaksa terus melangkah. pohon-pohon yang dilewati semua tampak gersang. Sedikit lagi puncak! aku menyemangati diriku sendiri.

Kakiku menapaki jalan yang mulai datar. bau belerang jelas tercium. Dan pemandangan indah tersuguh di depanku mataku.

 

Sajian selamat datang dari Yang Maha Kuasa. Aku sampai di puncak! Kupandangi batu itu. Batu bertuliskan

"Puncak Gedepuncak gede 2958 mdpl"

Kulihat langit itu. langit siang yang begitu cerah. Awan putih begitu bersih. kabut dingin hilir mudik menerpa wajah. Butuh dua hari untukku sampai di sini. Perjuangan berat dan melelahkan. Tak seberapa dibanding keindahan yang terbentang. Tak kan kulupa perjalanan ini. Perjalanan bersama sahabat-sahabat terbaik. Perjalanan pertamaku mendaki gunung.


Jika aku selamat turun dari sini, ini akan menjadi awal dari perjalanan-perjalanan ku yang lainnya.

Jika aku selamat turun dari sini, aku tak akan berbohong lagi pada ibuku.

***

Catatan perjalanan Gunung Gede, Bogor 2006
diikutsertakan dalam lomba cerpen @penerbitindiva

1 komentar:

  1. mdpl tu kepanjangannya apa?
    pengen ke puncak gunung naek helikopter :v

    BalasHapus

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^