Kamis, 03 November 2011

cerpen : EPISODE EMPAT BELAS

*Cerpen di bawah dibuat untuk diikutsertakan dalam lombanya mbak Amela . tentang ending cerbungnya Den and Dimi (silahkan klik buat baca cerita sebelumnyah). Sebelumnya mohon maap kalo ceritanya jadi tragis, sadis, najis dan mencemarkan cerita aseli. :D kalo ada kegiatan lain mending kerjain yang lain, daripada nyesel baca bginian*




EPISODE EMPAT BELAS : DEN DAN DIMI


“KETIKA PADI TAK SEPERTI DULU LAGI”



Dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhir Den dan Dimin… eh.. Dimi maksudnyah. Lukisan cendrawasih itu masih bertengger di kamar Den, bahkan gambar burungnya sudah beranak pinak, namun Den tak menghiraukannya. Yaudahlahyah.

Sesungguhnya Den sangat kangen pada Dimi. Perasaannya dari dulu tak pernah berubah. Namun kini Den hanya berfokus pada tugas kuliahnya yang kini mulai menumpuk. Ia tak mau perasaannya pada Dimi mengganggu kuliahnya.

Den sudah tak pernah bertemu dengan Rindang. Karena Rindang kini telah tiada, terbukti dari status facebook-nya yang Rest In Peace #eh emang ada?. Rindang mati bunuh diri dengan memakan biji duren. Semua itu dilakukannya agar Den merasa bersalah, namun Den malah menjadi lega setelah kematian Rindang, ia jadi leluasa untuk mencintai Dimi. Den emang agak2 rada-rada.

***


Dimi pusing tujuh keliling dengan penelitiannya. Padi penelitiannya bukannya berhasil panen bagus, malah bermutasi menjadi padi berambut. Dimi pun bingung dengan padinya, yang lebih mirip tanaman jagung mikro.

“duh pusing gw nin!” keluh Dimi pada Ainin.

“pusing nape sih lo jeng?” Tanya Ainin.

“ini nih, padi bego, dia malah numbuh rambut” kata Dimi sambil menunjuk padi percobaannya.

“wow gilee,, lucu kali Dim, ini penemuan baru namanya! Udah kasi nama belon, gimana kalo oryza sativa dimitrus? Oke khannn??” kata Ainin girang.

“gilak lo! Harusnya hasilnya bukan begini! Padi gw malah kayak jagung cacat gini,,, adoohhhh” Dimi mulai frustasi

“yaudah deh, kita liat aja dulu Dim, ini padi oke apa enggak, yuk coba kita masak” Ainin pun mengusulkan ide.

Setelah padi-padi tersebut diolah dan menjadi beras, Ainin pun memasaknya, lengkap dengan rambut-rambut padinya. Dimi jijik melihat hasilnya, sangat tidak menggugah selera, pikirnya. Lagipula padi itu kan hasil mutasi, tidak tau bagaimana efek sampingnya. Namun Ainin senang dengan padi ini, ia pun melahapnya dengan rakus. Di karenakan padi tersebut ternyata tidak layak makan, Ainin pun meninggal seketika.

***


“Den. Gw cabut dulu ke Bandung nih” kata Damian pada Den.

“mo ngapain bang? Bukannya lau lagi holidei?” Tanya Den.

“Ainin meninggal Den!” kata Damian dengan nada sedih

“apa? Ainin meninggal? Tapi Dimi enggak kan bang?” Tanya Den

“ah beon lu, yang lu pikirin cuman Dimi doang. Ayok ikut gw ngelayat yuk” ajak Damian pada adiknya itu.

“okeh deh bang, asik2 ketemu Dimi lagi,, ihihihih” kata Den girang. Den emang rada-rada.

***


Di tengah hujan deras, pemakaman Ainin tetap dilaksanakan. Di sana terlihat Damian, Den dan Dimi beserta keluarga Ainin. Dimi membiarkan dirinya dibasahi oleh air hujan, ia menolak ketika Den memayungi dirinya. Dimi pun menangis sejadi-jadinya di depan kuburan Ainin. Sambil menabur bunga, ia masih meminta maaf pada Ainin.

“huhu,, maapin gw nin, maapin gw yang udah ngebiarin elu makan tu padi buluan biadab, maapin gw nin, harusnya gw aja yang makan,,, HUAAAAAA” Dimi pun lepas kendali, mulai makanin tanah kuburan Ainin. Namun segera dihentikan oleh orang-orang di sana. Dimi pun di anjurkan agar diantarkan pulang kerumah. Damian dan Den pun mengantarkan Dimi pulang.

***


“gw masih gak percaya Ainin udah gak ada” kata Dimi ketika sarapan pagi. Membuat Den dan Damian jadi bingung untuk menanggapinya. Den dan Damian sengaja menginap di sana untuk menemani Dimi.

“umm,, yaudahlah Dim, yang udah pergi biarlah pergi Dim” kata Den dengan hati-hati.

“iya, kamu harus ikhlas Dim, semua bukan salah kamu” sambung Damian.

Dimi hanya terdiam. Mereka semua pun terdiam.

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka. “Dimitri? Kamu di rumah?” teriak orang itu. Ternyata mas Bagas.

Mereka pun menyambut kedatangan Mas Bagas. Den tak bisa menyembunyikan kekesalannya, ia tersenyum menyalami mas bagas, namun lebih terlihat seperti senyuman sinis. Den sebal karena mas Bagas datang ke sini pasti hanya akan merusak acara PDKT-nya dengan Dimi. Mas Bagas kan cinta pertama Dimi, pasti semua bakal sulit kalau ada orang ini di sini! Pikir Den. Damian membaca ketegangan antara Den dan Bagas, ia pun berusaha mencairkan suasana.

“hmm,, eh Gas, mau liat padi buluan yang jadi tersangka utama gak?” Tanya Damian.

“oh iya dong, gw mau liat, penasaran banget gue dari kemaren. Sebenernya kemaren mau langsung ke sini buat ngelayat, tapi jadwal gw gak bisa dicancel” kata Bagas. Mereka pun ke taman belakang tempat penelitian Dimi.

“ini nih padi berambutnya” kata Dimi menunjuk padinya.

“ya ampun, jelek banget, kek jagung cacat” kata Bagas polos. Dimi pun pengen jitak Bagas pake mikroskop, namun dihalangi Damian.

“kenapa ya padinya bisa bermutasi kayak gini?” Tanya Damian. Sebetulnya Damian tidak bertanya pada siapa-siapa.

“aku juga gak ngerti kak, kenapa ya, padahal hasil sebelumnya oke-oke aja. Mungkin gara-gara aku tambahin serum #$%#^* kali ya, atau kebanyakan hormone *##@#%???” kata Dimi. Den yang tak mengerti soal beginian pun tak bisa ikutan berspekulasi, walau ia sangat ingin.

Den pun ngeloyor ke dapur dan masak mie. Maklum, sarapan tadi kurang membuatnya kenyang. Di tengah masak mie, ternyata Bagas pun ke dapur hendak membuat kopi. Suasana dapur pun terasa panas, walau yang dibakar cuman panci, tapi entah kenapa Den juga merasa hatinya panas.

“emm, dari kapan lo kesini Den” Tanya Bagas basa basi.

“dari kemaren mas” jawab Den singkat.

“oh iya, gak usah panggil mas, panggil Bagas aje kale” kata Bagas sambil berkedip pada Den #eh. Den mendadak ilang selera makan.

Daripada gak jelas, Den pun bergegas kembali ke taman belakang buat makan mie di sana, sambil dengerin ocehan ocehan ilmiah Dimi dan kakaknya Damian. Walaupun dia gak ngerti, tapi yang penting ada Dimi di sana.

***


“gw bener-bener benci sama padi ini kak, gw gak bisa nerusin penelitian ini!” Dimi mulai menangis lagi.

“udahlah Dim, ini bukan salah lu, ini salah padinya” kata Damian sambil memegang bahu Dimi yang bergetar karena menangis.

“tapi padi itu jadi beracun karena gw yang nyiptain kak, jadi gw yang salah kan?” kata dimi menatap Damian.

Damian tak tau lagi harus berkata apa untuk menenangkan Dimi. Damian pun memeluk Dimi.

Brak! Mangkuk indomie yang di pegang Den terjatuh. Dari balik pintu, Den sangat kaget melihat Dimi dan kakaknya berpelukan. Mangkuk mie Den ceritanya terbuat dari melamin jadi Damian dan Dimi tak mendengar bunyi jatohnya #eaa. Ia tak menyangka bahwa selama ini ternyata hubungan Damian dan Dimi seperti itu. Padahal kakaknya tau bahwa Den menyukai Dimi. Kak Damian tega! Tega! Tegaaaaa!!! Jerit hati Den. Den pun menangis, dia galau gundah gulana. Den berlari menjauhi taman belakang. Ia berlari tak tentu arah, ia hanya ingin menjauh dari taman belakang, itu saja.

BRUK!! Den menubruk seseorang. Ternyata Bagas.

“eh kamu kenapa Den kok nangis” Tanya Bagas

“aku.. aku gak nyangka kalo Dimi sama Damian ternyata pacaran!” kata Den terisak isak. Bagas sontak kaget.

“apa? Pacaran????!!!” Bagas pun mendadak ikutan lesu kayak Den. Mereka pun termenung.

“padahal gw suka sama dia Den”kata Bagas kemudian.

“sama siapa ?” Tanya Den

“sama Damian! Ya sama Dimi lah!!” kata Bagas

“iya Gas, kita yang rebutan, kenapa Damian yang dapet! Huhu” kata Den masih menangis.

“ternyata kita senasip Den” kata Bagas sambil menatap Den. Matanya pun mulai ikut berkaca-kaca.

“huhu iya Gas, kita senasip” sahut Den. Mereka pun berpelukan kayak teletubbies.

BRAK!!!. Den dan Bagas melongo kaget. Ternyata itu bunyi mikroskop jatuh dari tangan Dimi. Dia siyok melihat pemandangan di depannya. Cinta pertamanya dan cinta keduanya berpelukkan. Ternyata setelah mereka kutolak, mereka menjalin cinta di belakangku, pikir Dimi. Ini sungguh menjijikkan!

“dasar kalian manusia MAHOOOO!!!!!” Dimi pun menangis dan berlari ke taman belakang. Ia sangat tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ia pun lalu putus asa dan makan padi buluan ciptaannya. Seketika dia pun meninggal menyusul Ainin.

Selepas kematian Dimi, akhirnya penelitian padi di ambil alih oleh Damian. Ia sangat bersemangat meneliti, bahkan ditangannya, padi tak Cuma berambut, bahkan berkumis #abaikan. Den dan Bagas pun semakin dekat (SEBAGAI SAHABAT!). mereka pun sering hangout bersama atau hanya untuk makan bersama, untuk makan makanan favorit mereka, yaitu indomie. Ini ceritaku, apa ceritamu?




*MENAMATKAN DIRI*








*bener kan, nyesel kan udah baca ceritanya? Emang gak berbakat sayah bikin cerpen :D*

cerita ini diikutkan dalam giveaway suka-suka Dunia Pagi

16 komentar:

  1. Hahahaa,,, ngakak sampe guling2 bacanyaa... UNEH (unik dan aneh)... 4 jempol buat kamu..

    BalasHapus
  2. wah jago bgt baca sambil guling2 :D
    ahahah ini cuma imajinasi liar tak bertanggung jawab ,, ngahhahahah :p

    BalasHapus
  3. bener2 lo ya bo..
    gue jadi buka 13 episode senelum inih !
    mau tau cerita sebelum berubah jg absurd kyk gini,,
    wkwkwkwk..
    *iket kepala baca 13 judul*

    BalasHapus
  4. cumae : iya buka deh mae,,, cerita aslinya baguuusss, gak ngebosenin deh, gw aje langsung kelar 14 episod dalam semalam :D

    BalasHapus
  5. cumae : eh mae,,, lu ikutan juga aja mae!!!! masi sampe 18 nov. kok... ayo ayoooooo :D

    BalasHapus
  6. aduh.. moodnya lagi tenggelem bohe, belom diajarin berenang dia.. -____-"

    BalasHapus
  7. NYONYOOONNNN...
    gue padahal berharap ini bakal jadi dongeng sebelum gue tidur.. cek TL gue !
    gue udah ngantuk, lalu serius baca ep1-13 lalu terpingkal2 di ep.14 ini ! MATEEEEEE... nais setori lah boheee..
    i like it.. ^0^

    BalasHapus
  8. wkwkwkwkwk :D imajinasiku yg ngablu ini lumayan menghibur kan.. ngahahahahahah
    bener kan cerita aslinyah bagus... :D

    BalasHapus
  9. ahahahahaha... geger dunia persilatan :D

    kereen kereeeen :)

    BalasHapus
  10. ilhammenulis : bukan cerita silat kok ini .. *pura2polos* :p

    BalasHapus
  11. Hahahaha....lucu bangeeed, jd ketawa ketiwi malem2 nih hihihi... Gudlak yaa...

    Oh iya, salam kenal ya Jeng, baru mampir nih ngeliat di tempatnya Amel :)

    BalasHapus
  12. mba Orin : wahh makasi udah maen. ketawa ketiwinya jgn kenceng2 ye mbak :D

    BalasHapus
  13. [...] Hesty Arnize: http://siiqebo.com/2011/11/03/cerpen-episode-empat-belas/ [...]

    BalasHapus
  14. huahahahaah...lucu sangat deh ... pinter bikin cerita gokil gini. salam kenal ya...:)

    BalasHapus
  15. mbak puteriamirillis : ahahah salam kenal juga mbak... :D

    BalasHapus
  16. Hahaha....Ceritanya lucu banget Mbak... Ga nyangka kalo cerita nya Amel bisa dibikin sekocak ini dengan ending yang tak terduga.... Salam kenal ya... :-)

    BalasHapus

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^