Sabtu, 15 Januari 2011

uwak (PKL BANJAR PART 4)

Hujan rintik mengiringi kami menuju rumah. Sawah hijau terbentang menemani kami menuju pelosok desa. Aku dan tiga temanku berkhayal bagaimanakah rupa rumah yang akan kami tempati. Apakah gubuk ataukah istana?. air hujan membasahi kaca mobil, mengaburkan pandanganku menatap rumah-rumah di tengah sawah sana. Ah, begitu jauh aku dari Jakarta. Tak akan adakah mall atau sekedar indomaret? Atau, adakah koneksi internet di sini?. Entah di mana arah pulang aku tak tahu lagi. Akankah tiga minggu di sini akan menjadi kenangan indah atau hanya sekedar minggu-minggu tak berarti yang membosankan?. Aku belum bisa menebak. Yang aku suka sekarang ini mungkin hanyalah pemandangan hijau itu, sawah yang tak pernah kulihat di Jakarta. Mungkin saja aku akan betah di sini. Apalah bedanya rumah di sini dan Jakarta? Paling paling hanya suasananya saja.

Mobil berhenti. Inilah rumah yang akan kami tempati tiga minggu ke depan. Rumah bagus. Halamannya cukup luas . disambut hangat oleh sang Ibu yang empunya rumah. Ramah. Berkenalan basa-basi dengan orang-orang rumah. Memohon ijin untuk tinggal selama tiga minggu di sana. Tak lama si Ibu pergi karena masih ada keperluan lain. Menitipkan kami pada seorang Ibu tua pengurus rumah.

Kami memanggilnya uwak. Uwak sudah tua. Mungkin lima puluh tahun lebih. Memakai penutup songkok kepala dari kain. Khas orang jaman dulu. Tiap bicara ia tersenyum. Aku belum tahu nama asli uwak. Tak terlalu ingin tahu juga.

Hari berlalu. Tugasku di desa ini bukan untuk bermain-main. Harus mendata hampir sembilan puluh rumah, memakan waktu lebih dari sehari. Tiap pagi harus bersiap untuk pergi mendata warga.

Pagi itu aku mencari sendalku yang kemarin kupakai untuk keliling ke rumah warga. Ah itu dia. Tertata rapih di antara jajaran sepatu lainnya. Ah, bersih sekali sepatuku ini, seingatku kemarin berlumur lumpur bekas menyebrang jembatan sungai. Kenapa sekarang terlihat bersih?. Aku ingat uwak, pasti dia yang membersihkan sepatuku. Sebelum pergi mendata ku temui sosok uwak dan mengucapkan terima kasih karena telah membersihkan sepatuku. Uwak hanya tersenyum sumringah, seperti biasa. Ah, baik juga si uwak itu.

Siang yang lelah, aku dan kawan-kawan pulang dari mendata. Ternyata di kamar kami sudah ada buah-buahan dan kuah rujak yang dibuatkan uwak. Wah, kami senang sekali. Rujak memang asik dimakan siang-siang terik begini. Lagi-lagi kami mengucapkan terima kasih pada uwak. Dan lagi-lagi uwak hanya tersenyum sumringah.

Setiap pagi makan makanan buatan uwak yang pasti selalu super pedas. Dan setiap pagi pula sepatu kami kembali bersih setelah kemarinnya kotor oleh tanah. Waktu itu pernah pula uwak melipat dan menyetrika baju cucian kami. Ah, tak enak rasanya, kami di sini hanya membayar uang makan dan listrik saja.

Uwak suka nonton sinetron. Sinetron Amira kesukaannya. Aku yang tak begitu mengerti jalan ceritanya ikut-ikut saja menemani uwak nonton. Terkadang uwak ribut sendiri kalau ia gemas dengan adegan sinetron itu.

Sampai akhirnya kami mendata rumah yang kami tempati. Kulihat kartu keluarga milik uwak. Sambil mendata kulihat betul kartu keluarga itu. Hanya ada nama uwak dan satu anaknya yang masih SD. Ah, rupanya uwak adalah seorang janda dengan satu anak. Anaknya Cuma satu, laki-laki. Kemana suaminya uwak ya? Tak berani aku tanyakan. Jarang kulihat anak uwak yang SD itu, tinggalnya tidak bersama uwak dan kami, di rumah ini.

Uwak selalu tampak ceria sumringah setiap melihat kami pulang mendata. Selalu mengingatkan kami untuk makan. Mungkin sebelum kami di sini suasana rumah sepi. Mungkin uwak senang karena dengan ada kami, rumah ini jadi ramai.

Satu hari menjelang kami pulang. Uwak menanyakan apakah kami besok jadi pulang. Ia berkata jika kami pergi rumah jadi sepi lagi. Mata uwak mulai berkaca-kaca. Kami pun memalingkan wajah, tak ingin ikut menangis. Uwak sudah seperti keluarga kami sendiri. Bahkan kami lebih dekat dengan uwak ketimbang dengan Ibu yang punya rumah. Ah, aku benci hal-hal yang sentimental begini.

Dan ketika ada pertemuan pastilah ada perpisahan. Hari ini pagi sekali kami sudah rapih. Hari berpisah setelah tiga minggu menumpang di rumah ini. Sedari pagi mata uwak berkaca-kaca, terlebih saat kami minta berfoto bersama.

Kami pun mohon ijin pada semua anggota keluarga, pada tetangga dan tak lupa pada uwak. Uwak tak kuasa menahan tangis. Uwak tersedu sambil memeluk kami satu persatu. Aku pun tak kuasa menahan air mata. Segera aku duluan naik ke mobil jemputan. Aku sebal harus berpamitan seperti ini. Malas rasanya bertangis-tangisan. Teman yang lain akhirnya menyusul naik ke mobil. Kulihat uwak menghapus air mata dengan bajunya. Matanya memerah dan terus menangis. Sebegitukah uwak sedih dengan kepergian kami. Mungkin uwak sudah menganggap kami seperti anak sendiri.

Mobil mulai melaju. Lambaian tangan terakhir sebagai tanda perpisahan. Sampai jumpa lagi uwak. Sampai jumpa lagi desa. Sampai jumpa lagi sawah. Sampai jumpa lagi jembatan sungai. Semoga tiga minggu ini member makna dalam sejarah kehidupanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^