Sabtu, 15 Januari 2011

untitled

Wanita renta itu termenung, karena telepon yang baru saja ia tutup.
Ia baru saja menelepon keponakannya. Suara ditelepon tadi masih terngiang di telinganya

“halo” terdengar suara lelaki di seberang sana. Ah ternyata suaminya yang mengangkat telepon.

“halo nak andi, ada dinda-nya? Ini tante”

“oh tante, iya tunggu sebentar” lalu terdengar suara berbisik disana.

“dek, tantemu telpon nih” kata suaminya setengah berbisik.

“haduhh,ck.. ngapain lagi sih nelpon-nelpon…???” kata dinda dengan suara sinis setengah berbisik.

Wanita renta itu terkaget, tak lain karena suara yang di dengarnya. Dinda tak biasa sinis seperti ini padanya. Ia selalu bermuka manis dihadapannya. Ia sama sekali tak menduga telponnya ternyata amat tak dinantikan.

“halo tante, ada apa?” tiba-tiba suara sinis itu berubah menjadi manis. Ahh tiba-tiba niat wanita renta itu untuk berbicara hilang sudah. Ia pun menyudahi telponnya dengan alasan ada kerjaan lain dan nanti akan telpon lagi.

Ini sudah kedua kalinya terjadi. Kedua kalinya ia mendengar bisikan sinis seperti tadi. Ia memang tua, tapi pendengarannya masih bagus. Tak terbayangkan olehnya ternyata keponakannya seperti itu. Padahal ia tadi menelepon untuk berbicara mengenai masalah keluarga. Memang sering ia curhat dengan keponakannya itu. Ahh mungkin cerita-ceritanya selama ini malah menjadi beban bagi keponakannya itu.
Ditatapnya bingkai foto di dinding ruang tamu ini. Fotonya bersama putrinya dan keponakannya yang mengenakan toga. Terlihat bahagia.

Teringat saat keponakannya pertama kali datang kerumahnya untuk berkuliah di kota ini. Di karenakan ibunya tak lagi mampu membiayai kuliahnya di kota asalnya. Sang wanita renta sangat senang, karena suasana rumah jadi lebih ramai. Biaya yang tidak murah tak ia pikirkan untuk menguliahi anaknya beserta keponakannya yang kebetulan berumur sama. Kuliah disamakan, bahkan pakaianpun sering dibelikan serupa. Tak ada beda kasih sayang di sana.

Wanita renta itu kembali tersadar dari lamunannya. Tak baik untuk mengingat-ingat kebaikan sendiri. Namun ia hanya heran, mengapa keponakannya itu kini malah sinis padanya. Padahal sejak keponakannya itu menikah dan punya rumah sendiri, ia kerap merindukannya.

Suara telepon berbunyi

“halo”

“halo mama… lagi apa? Icha nih” kata suara diseberang sana.

Ahh ternyata putrinya yang menelepon, kemurungan di wajah wanita renta itu langsung menghilang, terganti wajah gembira yang merona. Karena kangen pada putrinya dapat terobati hari ini. Putrinya yang setahun lalu pergi meninggalkan tanah air untuk bekerja, selalu menyempatkan waktu sekali seminggu untuk menelepon. Obrolanpun berlangsung lama.

“udah ya nak, ntar pulsanya abis lohh”

“ih apaan sih ma, orang masih mau ngobrol juga, buru-buru amat”

Ahh beda sekali putrinya dan keponakannya. Keponakannya yang rumahnya dekat saja, sering enggan untuk mampir. Ditelepon pun sinis seperti tadi. Rasanya semakin kangen ia dengan putrinya. Memang, tak ada yg menyamakan kasih sayang anak kepada orangtuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^