Sabtu, 15 Januari 2011

PKL BANJAR PART 1

Fiuhh, akhirnya bisa mencet-mencet tombol laptop dengan leluasa tanpa diganggu oleh tugas ini dan itu. Tapi bukan berarti semua tugas selese, Cuma karna ada waktu luang aja. Berhubung saya udah seminggu 2 hari di Banjar sini, sebenernya buaannyaaaak buangeet yang mau saya tulisin tentang pengalaman saya di sini, entah itu penting ga penting, sering ada keinginan, “ah, ntar gw nulis di blog tentang ini ahh” tapi ga jadi-jadi lantaran tugas2 seabreg yang datang menghadang, tapi sekarang, di pagi subuh yang insyaallah nantinya cerah ini, akhirnya ada kesempatan buat ngetak ngetik dikit.

BANJAR, 5 JANUARI 2011

Apakah saya sedang study tour? oh tidak, sama sekali tidak. Saya ada di Banjar karena program tetap dari kampus yang mewajibkan mahasiswa semester lima untuk turun ke Desa selama kurang lebih 3 minggu. Yup! Desa! Selamat tinggal kota Jakarta, selamat tinggal Slipi jaya, selamat tinggal Hollywood Kartika Chandra. Boro-boro di sini ada bioskop, nemu WC aja udah Alhamdulillah.

Namanya Desa Mekarharja. Sebelah timurnya langsung berbatasan dengan jawa Tengah. Ibaratnya, jawa barat paling ujung. Saya dan teman-teman ada di sini disebabkan satu mata kuliah, yakni “kebidanan komunitas”. Kita diwajibkan untuk turun ke desa supaya tau apa aja kerjaan bidan desa.. dan setelah satu minggu 2 hari di sini, saya dan teman-teman sepakat untuk tidak akan pernah sama sekali bahkan niatan pun tidak, untuk menjadi bidan desa!

Kami di sini dibagi per RW. Satu RW di pegang oleh 3 atau 4 mahasiswi. Jadilah saya dan 3 teman lain yang dipersatukan oleh takdir, kebagian memegang RW 12 yang terdiri dari 2 RT.

Hari pertama sampai, di isi dengan pengarahan dan pengenalan dengan orang tua asuh. Orang tua asuh di sini maksudnya adalah orang yang nanti rumahnya akan kami tumpangi selama 3 minggu ke depan.

Entah beruntung atau hoki (emangnya beda?) tapi yang pasti memang ini takdir, saya mendapat orang tua asuh seorang yang amat ternama yang namanya di elu-elukan di setiap sudut desa. Yakni : bapak kepala desa. Tangis haru pun mengucur seiring mobil pengantar sampai di rumah pak kades yang besar, apalagi ketika melongok ke kamar mandi, ohhh ada WC!!! Ingin saya peluk rasanya WC itu. Bagaimana tidak, sebagian besar rakyat di Mekarharja ini tidak punya WC. Mereka Cuma punya kolam multifungsi yang biasa disebut balong. Sebagai tempat mencuci piring, mencuci kain, mandi dan buang air. Sekaligus! Tak terbayangkan kalau saya yang terbiasa pakai WC tiba-tiba harus ee di balong, dengan ikan yang berenang-renang dibawah memasang wajah sumringah menanti keluar sang emas kehidupan. Astaghfirullohhh jorok amat.

Banyak teman saya yang mendapat tempat kurang enak. Ada yang kebagian orang tua asuhnya punya kolam, jadi mau cuci apa-apa harus di kolam,cuci piring, cuci baju. Bahkan dilarang keras cuci baju pake air sumur, entah kenapa, mungkin takut airnya habis . Alhasil teman saya itu pun sampe sekarang belom cuci baju juga.

Hari kedua kami berempat sepakat untuk melakukan pemetaan, alias bikin peta wilayah. Yang artinya kami harus mengukur keliling setiap sudut RW. Rencana di mulai dari rumah pak kades,mengitari RW sampai ketemu rumah pak kades lagi. Berbekal tali raffia yang di sambung menjadi 20 meter, kami pun melakukan pemetaan.

Awalnya biasa aja. tapi lama-lama capek juga karena ujung RW gak keliatan juga. Berkali-kali istirahat dan gantian megang tali raffia. Gantian menjawab karena banyak warga yang bertanya-tanya, sehubungan dengan keberadaan kami beserta tali raffia 20 meter yang lebih keliatan kayak lagi main tarik tambang ketimbang mengukur jalan.

Masalah muncul ketika hanya sawah yang terbentang. Bingung gimana mau ngukur. Akhirnya setelah Tanya sana-sini, katanya ada jalan untuk sampai ke rumah pak kades lagi. Ternyata jalan yang dituju adalah jalan penuh tantangan dan rintangan (halah lebay). Menyusuri jalan sungai, berkali-kali melewati jembatan maut(Cuma terbuat dari 2 bilah bambu) yang mbikin temen saya pengen nangis mau pulang.

Akhirnya terlihat jalanan motor dan tanda-tanda kehidupan. Okelah, akhirnya kami pun sampai dirumah pak kades lagi dengan selamat sentosa meski dengan sepatu yang sudah abstrak bentuknya.

Hari kedua dan ketiga diisi dengan mengunjungi 86 rumah warga. Tak ada waktu tersisa mesti sekedar buat jalan-jalan. Ternyata ini bener-bener bukan study tour!(yaeyalah). Hari ke empat sampai hari keenam di isi dengan mencocokan data tabulasi desa. Sampai tiga hari belum kelar juga. Data tak kunjung valid. akhirnya dengan berat hati terpaksa keliling kerumah-rumah sekali lagi. Kebayang dong capeknyaaaa. Teman saya pun pas nyari data sampai sampai kecemplung di balong (sekaligus sama sepedanya). Entah karena konsentrasi yang berkurang karena capek, atau mungkin karena memang ingin nyoba mandi di balong sambil mencuci sepeda, wallahhualam.

Data selesai, tabulasi selesai, perlengkapan siap. Saatnya mengadakan Musyawarah dengan masyarakat desa. Alhamdulillah acara berlangsung sukses, meski banyak kekurangan dimana-mana. Saya kebagian di panitia rollplay (drama). Mungkin karena wajah saya pucat kayak Mayat idup, saya pun berperan jadi ibu hamil yang kurang darah. Alhamdulillah menghibur.

Di akhir acara, semua dosen tiba-tiba marah. Mengatakan mereka sangat kecewa dengan acara musyawarah ini. Entah ada angin apa,dosen pun mengatakan ini acara terburuk yang pernah ada. kami pun bingung harus berbuat apa. Tangis kami pun tak terbendung, merasa terhina karena kerja keras kami tak dihargai. Bahkan kami disuruh mengulang PKL semester depan.separah itukah?? Memang acara kami tak sempurna, namun dosen harusnya memaklumi ketidaksempurnaan ini . semua mengangis, kecuali satu orang, yaitu : saya. Ahahahayy bukannya saya tak punya hati, saya memang kurang doyan nangis-nangis beramai-ramai. Lagipula dari awal saya sudah curiga sama dosen-dosen ini. Ternyata benar, dosen mengerjai kami. Tangis teman-teman saya pun makin menjadi, kali ini lebih karena bahagia karena tak jadi untuk mengulang PKL tahun depan, haha.

Fiuhhh secara keseluruhan saya mulai betah disini. Tempatnya adem, gak kayak Jakarta yang udah semerawut. Di sini masi hijau suasananya. Bertabur sawah dan embun pagi. Gimana kalau saya alih profesi jadi petani? Kayaknya asik. Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^