Sabtu, 15 Januari 2011

F.U.T.U.R

nov,10 2010

Aku benci futur. Aku benci saat aku futur. Mengapa aku harus futur. Seperti saat ini….

Dini hari kuterbangun, ah mengapa ku terbangun, inginku untuk terlelap lagi namun terlintas sesaat untuk sholat malam, namun hanya terlintas sesaat saja sebelum mata ini kembali terpejam.

Tak ingat lagi kapan terakhir aku melaksanakan sholat malam. Mungkin berbulan-bulan yang lalu. Entah kenapa, awalnya hanya ingin tak sholat malam itu saja, tapi terbawa dan terbiasa hingga kini. Awalnya merasa bersalah, lama kelamaan merasa nyaman saja. Wajar saja, kuliahku mulai padat dan aku butuh istirahat banyak. Ah alasan.

Adzan subuh berkumandang dari alarm HP-ku. Ah, ingin tidur sebentar lagi. Sebentar lagi… sebentar lagi..

Mataku akhirnya terbuka. Kulihat jendela, ah sudah terang, matahari telah tinggi. Lagi-lagi aku kesiangan sholat subuh. Aku berjalan gontai ke kamar mandi mengambil air wudhu. Minggu ini entah keberapa kalinya aku kesiangan sholat subuh. Bahkan kemarin baru bangun jam sepuluh. Dulu dulu aku jarang kesiangan, hanya sesekali, itu pun jarang sekali. Kalaupun kesiangan,aku pasti langsung meloncat kaget dari kasur, berhambur ke kamar mandi, mengucap astaghfirullah berkali-kali. Kini hal itu sudah menjadi biasa, tak pernah kaget lagi kalau kesiangan. Wajar saja, kuliahku mulai padat, sering mengerjakan tugas sampai malam. Ah, alasan.

Habis subuh mata ini kembali ingin terpejam. Kupeluk lagi gulingku. Kembali terbang ke alam mimpi. Ah damainya. Walau telah tersapu air wudhu, mata ini masih saja terasa lelah. Kini setiap habis subuh pasti ku selalu tertidur, sudah tak ingat lagi kalau saat-saat itu bukan waktu untuk tidur, apalagi jika ku subuh di awal waktu, saat mentari masih bersembunyi, rasanya memang lebih baik tidur lagi. Wajar saja, waktu istirahatku banyak tersita untuk tugas-tugas yang banyak itu. Ah, alasan.

Hari menjelang siang. Kini kuterbangun sepenuhnya. Bersiap mandi dan berpakaian untuk pergi ke kampus. Kuberdandan rapi dan siap untuk berangkat. Jilbab lebar bertengger manis menghias kepalaku. Kulangkahkan kakiku menuju pagar rumah. Ah, ku teringat ku belum dhuha, ah sudahlah itukan hanya sholat sunnah saja, sesekali tidak sholat tak apa. Kapan ku sholat dhuha aku sudah tak ingat, mungkin bulan puasa kemarin. Wajar saja, waktu-waktu dhuha adalah waktu untuk aku kuliah. Ah, alasan.

Bis yang ku naiki tak banyak penumpang. Hanya segelintir orang di dalamnya. Ah, ada akhwat juga. Sedang membaca sesuatu rupanya. Seperti al-ma’tsurat. Ah punyaku sepertinya juga ada di dalam tas. Kurogoh-rogoh tasku dalam-dalam, tak jua kutemukan al-ma’tsurat. Sepertinya aku lupa membawanya. Ada dimana ya? Terakhir kubaca kapan ya? Ah, minggu lalu? Bulan lalu? Sepertinya berbulan-bulan yang lalu. Huh, sudahlah.

Teringat al-ma’tsurat aku teringat Qur’an-ku. Ah, biasanya ada di dalam tas juga. Kucari namun tak ada. Ah ada dimana ya? Terakhir kubaca dirumah, atau di kampus? Sepertinya beberapa hari yang lalu, atau mungkin minggu lalu. Entahlah.

Kuperhatikan akhwat itu, yang duduk beberapa kursi di sampingku. Jilbabnya sama panjang denganku. Tapi tampaknya dia lebih akhwat dariku. Ah, apa itu istilah ‘lebih akhwat’???. Mungkin dia tidak sibuk sepertiku. Jadi masih sempat mengingat membawa al-ma’tsurat, mungkin tadi dia juga sempat dhuha dan mungkin sholat subuhnya tepat waktu dan mungkin juga semalam suntuk dia sholat malam dan berdzikir. Ah mungkin dia tidak sibuk kuliah sepertiku.

Aku berjalan gontai ke ruangan Tata usaha, untuk mengambil nilai semester ini. Ah, berapakah nilaiku? Apakah memuaskan? Aku ragu.

Kuperhatikan selembar kertas itu, dari atas sampai bawah. Hasil belajarku di kuliah semester ini. Yang ada hanya nilai-nilai mengecewakan. Ah, tak ada yang bisa kubanggakan.

-------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini ^-^